Rabbii, Apakah Taubat Zina Pacaran Diterima ?

5 minutes reading
Friday, 23 Jul 2021 03:03 0 48 mustaghfir
           Langit sore terasa indah di pelupuk mata, saat matahari mulai terbenam di sisi barat. Ku pandang sayup-sayup melalui balkon rumahku. Angin segar mengibaskan hawanya. Betapa nyamannya kehidupan ini.

Aku seorang anak dari kampung perbatasan di Pulau Jawa. Ayahku sangat pekerja keras. Setelah fajar menyingsing Ia sudah ke sawah. Siang hari di rumah istirahat setelah lelah dari sawaj. Sore hari Ayahku sudah berkutat dengan pekerjaan lainnya. Disisi lain Ibuku sangat penyayang, ia tak pernah memiliki kesibukan, kasih sayangnya penuh di berikan ke anak anaknya.

Usiaku sekarang sudah 21, aku telah duduk di universitas swasta di Ibukota Pulau Jawa. Sore ini aku benar benar merasakan sakit hati. Aku menyesal atas apa yang telah kulakukan. Saat menginjak remaja, beberapa lelaki mengaku mendapatkan nomor ponsel saya karena salah sambung, namun anehnya kuladeni mereka bukan mengabaikannya. Efeknya dari hari itu sampai aku ke universitas seringnya kami pergi keluar rumah melakukan hubungan mesum.

Sampai pada suatu ketika Allah mengingatkanku. Aku tersadar Allah murka terhadap orang yang berzina, karena termasuk 10 dosa besar. Hancur hatiku, aku belum bisa membanggakan kedua orang tuaku dengan sebuah prestasi, namun aku setiap hari memberikan dosa pada ayahku. Orang tuaku tidak pernah menanyakan tentang hubunganku dengan lelaki ini. Saat sang pria datang ke rumah, ayahku tak pernah mempermasalahkannya. Ayahku dan keluargaku menganggap wajar hal ini.

Sore ini ditengah kegaluan ini, kuputuskan untuk menyegerakan istirahat.  Kuharap besok ketika aku bangun Allah memberikan aku solusi.

Fajar telah menyingsing. Pagi ini aku sengaja ke masjid kampus. Saat di masjid, tak sengaja aku bertemu teman rombel PAI ku, Salsa. Aku ngobrol serius dengan Salsa mengenai diriku ingin sekali mengaji. Akhirnya Salsa mengajakku untuk ikut kelompok mengajinya sepekan sekali di masjid kampus setelah mendapat persetujuan ustadzah.

Alhamdulillah sebulan sudah mengajiku telah berlangsung. Kedekatanku pada ustadzah terus terjalin. Pada pekan keenam pertemuan mengaji di masjid kampus, saya memohon izin pada ustadzah untuk ngobrol secara pribadi. Acara mengaji selesai dan teman-teman kelompok mengajiku telah meninggalkan masjid kampus. Saya dan ustadzah tetap berada di lantai tiga masjid, yakni tempat sholat putri. Kuceritakan pada ustadzah tentang apa yang ku alami. Air mataku tak bisa kubendung saat bercerita tentang kisahku pada ustadzah. Aku telah berzina berkali-kali saat pacaran dengan lelaki yang bilang mendapatkan nomor ponselku dengan alasan nyasar itu. Aku sangat takut karena zina ialah dosa besar. Terlebih aku takut Allah tidak mengampuni orang yang berzina sepertiku.  

Setelah cerita ku telah usai. Ustadzah memelukku, membiarkan aku untuk tenang terlebih dahulu. Selanjutnya tetiba ustadzah menanyakan “Apakah Mbak tahu sosok Abu Hurairah?” Ku jawab “Oh yang ada dihadist hadist itu ya ust?” Iya betul. Dengarkan sebentar ya, ada kisah tentang beliau yang bisa menenangkan dirimu, dan bisa jadi solusi atas kejadian ini.

Suatu malam, Abu Hurairah keluar rumah setelah shalat ‘isya. Tetiba ada seorang wanita bercadar memanggil Abu Hurairah

“Wahai Abu Hurairah! Sungguh aku telah melakukan perbuatan dosa besar. Masih adakah kesempatan bagiku untuk bertaubat?”

 Lalu Abu Hurairah bertanya kepada wanita tersebut “Apakah dosamu itu?”

 Wanita itu menjawab, “Aku telah berzina dan membunuh anakku dari hasil zina itu.”

Abu Hurairah berkata “Kau telah binasakan dirimu dan telah binasakan orang lain. Demi Allah, tidak ada kesempatan bertaubat bagimu.”

Tentu perempuan ini menangis, menjerit mendengar ucapan Abu Hurairah.

“Tapi sebentar mba, ada cerita lanjutannya” ucapnya padaku,ustadzah pun melanjutkan cerita tentang Abu Hurairah.

Perempuan yang bertanya tadi setelah menangis kemudian pergi. Kemudian Abu Hurairah bergumam di dalam hati, “Aku berfatwa, padahal Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam ada di tengah-tengah kita?” Astaghfirullah. Keesokan hari Abu Hurairah menemui Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam, kemudian Abu Hurairah menceritakan apa yang telah ia lakukan pada wanita bercadar kemarin.

Abu Hurairah berkata, “Wahai Rasulullah! kemarin ada seorang wanita meminta fatwa kepadaku, tentang ini dan ini” Abu Hurairah menceritakan kejadiannya dan apa yang telah ia ucapkan kepada wanita tersebut pada Rosul. Setelah mendengar penjelasan dari Abu Hurairah, Baginda Shollallahu Alaihi Wassalam bersabda,

 “Innaa lillahi wa inna ilahi raajiun! Demi Allah, celakalah  engkau  dan  telah  mencelakakan  orang  lain. Tidakkah kau ingat ayat ini Quran di Surah Al-Furqan ayat 68-70”

Coba Mbak, Buka Qurannya, tadi bawa ya saat ngaji, Coba Mba baca artinya” Perintah Ustadzah padaku, lalu aku membaca artinya

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal soleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

 “Saya lanjutkan ceritanya ya” Izin ustadzah padaku.

Kemudian Abu Hurairah keluar dari sisi Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam dan berlari menyusuri jalan Madinah mencari wanita yang kemarin meminta fatwa pada Abu Hurairah. Saat menjelang larut malam, akhirnya Abu Hurairah menemukan wanita bercadar tersebut.  Maka Abu Hurairah segera memberitahukan pada wanita itu seperti apa yang dikatakan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam bahwa dia boleh sekali bertaubat, Lalu wanita itu kegirangan. Kemudian wanita tersebut berkata, “Kebun yang kumiliki akan kusedekahkan kepada orang-orang miskin kerana dosaku.”

 “Selesai, begitu ceritanya Mbak.” Ucap ustadzah padaku.

Kini aku menjadi sadar, kesempatan, jatah hidup yang sekarang saya terima merupakan nikmat Allah. Saya diberikan kesempatan memilih jalan taubat. Sejak hari ini kuputuskan untuk melakukan banyak kebaikan di masyarakat. Lalu aku tambah porsi sayangku pada ayah ibuku. Aku lega Alhamdulillah walaupun zina ini merupakan dosa besar namun pintu taubat selalu menantiku. Allah memang Maha Pengampun.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

    ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,
    Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,- Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.-
    (Q.S. Nuh : 10-12)

    LAINNYA